AKU DAN KAMU
Siang itu sepulang sekolah, adalah waktu pertama kali ku melihatmu. Pandanganku tak bisa lepas darimu, sosok wanita yang menurutku lebih dari wanita lainnya. Dengan rambut sebahu, jam tangan berwarna cokelat dan kacamata menambah ketertarikanku padamu. Entah kenapa hatiku berkata jika kamulah orang yang akan menjadi istriku kelak, padahal saat itu aku sama sekali tak mengenalmu, bahkan nama dan alamat rumahmu pun aku tak tahu, terasa bodoh memang. Namun kata hati tak bisa dipungkiri. Jujur, pandangan pertama itu membuatku selalu memikirkanmu, aku sempat membayangkan jika suatu saat nanti ku bisa mendapatkanmu. Karena ketertarikanku padamu aku mencoba mencari semua tentangmu, mulai dari siapa namamu, dimana rumahmu, dan bagaimana keluargamu. Selang beberapa bulan, akhirnya aku menemukan semua itu. Mendengar namamu pertama kali, membuatku semakin tertarik padamu. Pencarianku tak sampai disitu, aku berusaha mendapatkan nomor handphonemu, berkat bantuan temanku yang juga dekat denganmu, akhirnya aku mendapatkan nya. Tapi entah mengapa, setelah aku mendapatkannya, aku tak memberanikan diri untuk menghubungimu, begitu bodohnya aku. Sampai akhirnya facebook yang membuka perkenalan kita, masih teringat kata yang kau tulis didindingku saat itu. Awalnya aku tak menyangka jika itu adalah kamu, karena saat itu kau tak memakai namamu yang sebenarnya, setelah aku mengetahui jika itu kamu, hatiku merasa sangat bahagia. Sejak hari itu, kita mulai sering berhubungan. Sampai suatu hari aku mengajakmu untuk pulang bersama dan kau menyetujuinya. Kali ini aku berada dekat denganmu, awalnya aku tak sanggup memandangmu, sampai akhirnya aku mencoba mencuri-curi pandangan padamu.
Suatu ketika hatiku hancur saat ku melihatmu bersama orang lain berdua bersama berboncengan menggunakan motor, aku berpikir jika itu pacarmu, namun dugaanku ternyata salah, dia hanya temanmu sewaktu SMP. Kepercayaan diriku mulai tumbuh kembali untuk mendapatkanmu, kali ini aku memberimu perhatian lebih agar kamu tertarik padaku. Beberapa bulan setelah kita kenal, aku memberanikan diri untuk mencurahkan isi hatiku padamu, walau tak secara langsung dan sedikit demi sedikit. Awalnya kau tak mau menerima cintaku, saat kau menolak cinta ini, hati terasa tak ada gairah lagi. Aku sempat putus asa sampai akhirnya aku tak memberimu perhatian lagi. Namun karena keyakinanku jika engkaulah calon pendamping hidupku, aku kembali mencobanya. Perlahan aku meyakinkanmu sampai akhirnya kau memberiku kesempatan. Hari itu adalah hari pertamaku memiliki kekasih, yaitu kamu. Benar-benar terasa indah hidup ini, dengan persaingan dan pengorbanan yang tak mudah akhirnya aku bisa memilikimu.
Pejalanan cinta kita memang tak mudah, kadang harus bahagia dan kadang harus bersedih. Berbagai cobaan sering menerpa cinta kita, namun karena kesabarnmu yang mampu mengimbangi sifat kerasku, akhirnya kita bisa mempertahankanya.
Suatu ketika saat kau pergi di Jogjakarta aku mendengar jika kamu menderita penyakit kanker yang cukup mematikan, saat itu aku mencoba menguatkanmu, memberimu dukungan dan doa. Dalam setiap doaku selalu kuselipkan namamu, memohon kepada sang Kuasa untuk memberimu kesembuhan. Akan tetapi kondisimu terus menurun, sampai beberapa hari kau harus tertidur tanpa membuka mata sama sekali diatas tempat tidur rumah sakit diJogjakarta. Setiap malam aku menangisi penderitaanmu, aku berdoa agar aku bisa menggantikanmu disana, tetapi semua itu hanya sia-sia. Aku selalu memantaumu dengan bantuan keluargamu yang selalu memberiku informasi tentang kondisimu, sampai suatu saat mereka memberiku kabar jika kondisimu benar-benar turun. Ingin rasanya aku menemanimu disana, tapi apalah daya aku tak mendapat izin dari orang tuaku. Aku hanya bisa mengirim doa dari jauh, sampai akhirnya kamu tersadar dari tidur panjangmu. Mendengarmu tersadar, aku sangat bersyukur pada sang Kuasa, dengan begitu banyaknya dosa-dosaku Tuhan masih mengabulkan doaku. Tapi setelah sadar sempat kau tak mengenaliku beberapa hari, walaupun begitu aku tetap memberimu motivasi untuk terus berjuang melawan penyakitmu itu. Setelah keluar dari rumah sakit, aku merasa sedih dengan keadaanmu karena hidupmu harus bergantung pada obat-obatan itu.
Setelah hamper 1 tahun kita berhubungan, seiring berjalannya waktu akhirnya penyakitmu mulai hilang walau belum sepenuhnya. Kini sudah hamper 2 tahun perjalanan cinta kita, tak pernah ada kata bosan padamu, jujur aku sama sekali tak punya pikiran untuk berpaling kepada wanita lain dan meninggalkanmu. Walaupun terkadang aku tak memperhatikanmu karena kesibukanku, aku mohon maaf yang sebesarnya atas semua kesalahnku, aku tak punya maksud sedikitpun untuk menyakitimu, aku hanya ingin kau menjadi seperti apa yang aku inginkan.
Keep Smile
Tulisan ini aku persembahkan sepenuhnya untuk kekasihku yang sangat aku cintai @Prissilia Prahesta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar